Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Tongue Tie

“ TONGUE TIE “

 Defenisi Tongue Tie

Tongue tie (ankyloglossia, tali lidah pendek) adalah kondisi jika bagian bawah dari lidah tertambat pada bagian bawah mulut oleh suatu membran yang menyebabkan pergerakan lidah menjadi terbatas. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah perkembangan oral, seperti makan, bicara, menelan, dan masalah terkait lainnya. Tongue Tie terjadi karena faktor genetik mengingat kasus ini sering ditemui dalam lingkup keluarga tertentu.

Empat tipe tongue tie berdasarkan kriteria seberapa dekat jarak ujung lidah ke tepi frenulum (tali lidah)

  1. Tongue Tie tipe 1, tali lidah (frenulum) dimulai dari ujung lidah, jika lidah menjulur akan tertarik menjadi heart shape (bentuk hati, love)
  2. Tongue tie tipe 2, tali lidah (frenulum) berjarak 2-4 mm di belakang ujung lidah
  3. Tongue tie tipe 3, tali lidah pada pertengahan lidah dan berada di tengah-tengah dasar mulut, umumnya lebih tebal dan kurang elastis
  4. Tongue tie tipe 4, tali lidah pada bagian dasar lidah (bagian belakang) lebih tebal, licin mengikat dan sangat tidak elastis

Tipe 1 dan 2 dianggap tongue tie “klasik”, yaitu tongue tie yang paling banyak dan paling nampak jelas serta mempunyai kemungkinan mencapai 75 % dari kejadian. Sementara itu, tongue tie tipe 3 dan 4 kurang umum terjadi. Keduanya lebih sulit dikenali, sehingga sebagian besar kasus tidak dilakukan tindakan.

Penyebab Tongue-tie

Pada kondisi normal, sepotong selaput bernama lingual frenulum yang terletak di sisi bawah lidah terhubung dengan bagian lantai mulut. Namun pada tongue-tie atau ankyloglossia, bentuk lingual frenulum lebih pendek dan melekat pada sisi bawah ujung lidah dan lantai mulut sehingga penderitanya tidak bisa menjulurkan lidah keluar dengan baik.

Penyebab pasti lingual frenulum yang tidak terpisah saat lahir seperti pada kondisi normal belum diketahui hingga saat ini. Namun pada beberapa kasus sudah terjadi, penyakit ini bisa berkaitan dengan faktor genetik tertentu dan menurun di keluarga.

Gejala Tongue-tie

Seorang bayi mungkin memiliki kondisi tongue-tie jika terdapat tanda-tanda, seperti kesulitan mengeluarkan lidah melewati gigi depan bagian bawah dan kesulitan mengangkat lidah hingga menyentuh gigi bagian atas. Bayi Anda juga akan kesulitan menggerakkan lidah dari sisi satu ke sisi lainnya. Bayi yang memiliki kelainan tongue-tie kemungkinan memiliki lidah berbentuk hati atau seperti terdapat lekukan di ujung lidahnya.

Komplikasi Tongue-tie

Tongue-tie dapat menyebabkan beberapa komplikasi, antara lain gangguan perkembangan organ mulut bayi, gangguan menyusu, makan atau mengunyah jenis makanan tertentu, menelan, atau kemampuan berbicara.

Pada anak yang memiliki tongue-tie, beberapa suara yang dihasilkan saat berbicara akan berbeda, seperti kesulitan melafalkan huruf-huruf “r”, “s”, “z”, “th”, “d”, dan “t”. Kondisi ini biasa dinamakan dengan cadel. Selain itu, beberapa kegiatan yang melibatkan organ mulut juga mungkin akan sulit dilakukan, seperti memainkan alat musik tiup.

Selain kepada bayi, proses menyusui yang terhambat akibat tongue-tie turut berpengaruh kepada ibu. Selain rasa sakit pada puting payudara, bayi akan kesulitan mengisap susu yang akan berdampak kepada berkurangnya asupan nutrisi yang didapatkan, serta pada perkembangan sang bayi. Lama-kelamaan, tongue-tie juga bisa menyebabkan terbentuknya jarak antara dua gigi depan bawah.

Proses menyusui tidak dapat berjalan jika bayi ibu mengalamai tongue tie. Mengapa? karena bayi akan mengalami kesulitan menyusu langsung ke payudara ibu.  Perlekatan antara mulut bayi dan payudara ibu tidak benar sehingga bayi biasanya akan menjadi rewel karena tidak dapat menyusu optimal dan masih kelaparan. Payudara ibu biasanya akan mengalami lecet dan luka. Kebanyakan yang datang ke klinik laktasi setelah puting payudara merekah lecet seperti kawah menjadikan sebuah pengalaman yang tidak nyaman.

Dampak lain tongue tie adalaha bayi akan kekurangan gizi dan menjadi malnutrisi. Bobot badan bayi tidak naik bahkan turun. Bila ibu mengalami kejadian seperti ini sebaiknya mencari bantuan ke klinik laktasi atau dokter anak pro-ASI untuk memeriksakan bayi.

Dokter anak akan memeriksa jika si kecil memang positif mengalami tongue tie dan akan dilihat termasuk ke dalam tipe yang mana. Pasalnya, tidak semua tongue tie perlu dilakukan tindakan jika tali lidah elastis, tidak mengganggu proses menyusui, bobot badan anak mengalami kenaikan signifikan setiap bulan, dan ibu tidak ada keluhan payudara. Cukup diposisikan dan diletakkan dengan baik.

Diagnosis Tongue-tie

Diagnosis tongue-tie didapatkan melalui pemeriksaan dari sisi ibu maupun pemeriksaan fisik pada bayi atau anak. Dokter akan menanyakan pada ibu apakah merasakan kesulitan saat menyusui, atau memberi makan anak, dan sebaliknya. Dokter juga akan bertanya tentang keterbatasan pergerakan lidah yang dialami anak dan apakah anak mengeluarkan suara yang berbeda saat berbicara atau melakukan kegiatan terkait lainnya.

Pada bayi atau anak, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk menganalisis seberapa baik kemampuan lidah bergerak atau bekerja berdasarkan beberapa aspek penilaian.

Pengobatan Tongue-tie

Beberapa tindakan operasi yang umumnya dilakukan dalam menangani tongue-tie pada bayi, anak, maupun dewasa adalah:

Frenotomy

Prosedur pembelahan tongue-tie ini menggunakan gunting yang telah disterilkan agar sisi bawah lidah tidak terlalu menempel dengan dasar mulut sehingga lidah dapat bergerak dengan lebih leluasa. Prosedur ini berlangsung cepat dan umumnya tidak terjadi pendarahan besar. Hal ini disebabkan tidak adanya pembuluh darah atau ujung saraf pada lingual frenulum. Biasanya bayi dapat langsung menyusu setelah prosedur dilakukan.

Frenotomy dapat dilakukan dengan atau tanpa pembiusan dan bisa dilakukan di rumah sakit ataupun di ruang praktik dokter. Komplikasi yang diakibatkan oleh prosedur ini juga tergolong jarang, termasuk kemungkinan frenulum yang menempel kembali ke sisi bawah atau dasar lidah. Kemungkinan lainnya yaitu infeksi atau pendarahan, dan kerusakan pada lidah.

Frenuloplasty

Prosedur frenuloplasty dilakukan dengan pembiusan umum dan menggunakan perlengkapan operasi yang lebih lengkap. Prosedur ini dilakukan pada lingual frenulum yang lebih tebal atau pada kasus yang lebih rumit atau pada anak dengan usia lebih besar dan orang dewasa sehingga tidak memungkinkan untuk ditangani dengan prosedur frenotomy.

Pada prosedur ini frenulum dilepaskan, lalu luka ditutup dengan jahitan yang akan menyatu ke dalam bekas luka seiring proses penyembuhan. Pasien mungkin akan memerlukan terapi paskaoperasi untuk melatih pergerakan lidah dan membantu mengurangi risiko timbulnya komplikasi berupa jaringan parut.

Komplikasi frenuloplasty tergolong langka, selain jaringan parut akibat pembiusan dan prosedur operasi yang dilakukan, kondisi yang serupa dengan komplikasi frenotomy juga dapat terjadi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.