Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Postpartum Depression

DEPRESI POSTPARTUM (POSTPARTUM DEPRESSION)

 Postpartum depression (PPD) atau depresi pasca melahirkan adalah salah satu jenis depresi yang dialami oleh seorang ibu setelah melahirkan.

Postpartum depression bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan-lahan, dimulai pada tahun pertama pasca melahirkan. Kondisi ini bukanlah kelemahan dan kekurangan dari sang ibu, postpartum depression bisa terjadi akibat komplikasi dari proses persalinan.

Gejala

Berbeda dengan kondisi baby blues yang terjadi selama 7-14 hari setelah melahirkan, postpartum depression biasanya lebih parah dan berlangsung lebih lama. Karena itu, waspadalah apabila depresi terjadi lebih dari 14 hari atau berdampak signifikan pada sang ibu, bayi, serta keluarga.

  1. Terus sedih dan murung.
  2. Sering menangis tanpa sebab yang jelas.
  3. Selalu lemas dan lelah.
  4. Mengalami gangguan tidur dan cenderung mengantuk pada siang hari.
  5. Sulit berkonsultasi dan membuat keputusan.
  6. Tidak tertarik pada sekitarnya.
  7. Kehilangan minat pada hal-hal yang pernah disukai.
  8. Nafsu makan yang menurun atau meningkat.
  9. Merasa bersalah dan tidak berdaya.
  10. Selalu bicara negatif.
  11. Uring-uringan dan cepat
  12. Tidak merawat diri sendiri, misalnya tidak mandi atau ganti baju.
  13. Tidak ingat waktu.
  14. Cenderung menarik diri.
  15. Kesulitan merasakan ikatan batin dengan sang bayi.
  16. Tidak merasa senang punya momongan.
  17. Hanya merawat sang bayi karena kewajiban.
  18. Tidak ingin bermain dengan sang bayi.
  19. Selalu merasa ada yang salah pada kondisi sang bayi.
  20. Memiliki pikiran buruk, seperti ingin menyakiti sang bayi atau bunuh diri.

Keluarga dan orang-orang terdekat sebaiknya waspada apabila sang ibu mengalami gejala-gejala tersebut. Bujuklah dia untuk membicarakannya dengan pasangan, keluarga/teman. Jika dibutuhkan langkah medis, ajaklah ke dokter agar bisa ditangani secepatnya. Terutama apabila depresi makin parah, tidak kunjung berkurang, menghambat kegiatan sehari-hari, membuat penderita kesulitan merawat bayinya, dan merasa ingin merawat bayinya, atau merasa ingin menyakiti sang bayi.

Postpartum depression yang tidak ditangani berpotensi memicu masalah dalam keluarga. contohnya, sang ibu bisa mengalami depresi kronis, sang ayah selalu merasa tertekan, serta gangguan psikologis dan perilaku ( seperti hiperaktif dan gangguan makan) pada anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang mengalami postpartum depression.

 Penyebab dan Faktor Risoko Postpartum Depression

Penyebab postpartum depression belum diketahui secara jelas. Namun para pakar menduga bahwa ada beberapa faktor yang memegang peran penting dibalik kondisi ini, yaitu :

  1. Perubahan fisik setelah melahirkan, misalnya penurunan kadar hormon yang drastis.
  2. Gangguan emosional. Merawat bayi biasanya akan menyebabkan sang ibu kurang tidur dan kewalahan, sehingga masalah kecil apapun berpotensi memicu rasa cemas atau stres. Contohnya, ketika sang ibu kesulitan memberikan ASI.
  3. Bayi yang membutuhkan perhatian khusus, misalnya karena mengidap penyakit tertentu.
  4. Pernah mengalami depresi atau postpartum depression.
  5. Stres akibat kesulitan finansial atau masalah dengan pasangan.
  6. Tidak ada dukungan dari keluarga.

Penanganan Di Rumah

Merawat bayi bukanlah tugas yang ringan, terutama bagi ibu yang baru. Sejumlah cara yang sebaiknya dilakukan sang ibu untuk menghadapinya :

  1. Jangan segan untuk menceritakan kesulitan dan perasaan pada pasangan, keluarga/teman agar mereka mengerti dan bisa membantu.
  2. Tidak perlu sungkan atau gengsi untuk menerima/meminta bantuan, misalnya untuk urusan dapur.
  3. Beristirahatlah sebisanya, misalnya dengan meminta bantuan pasangan untuk bergantian menjaga bayi pada malam hari.
  4. Luangkan waktu untuk sendiri agar bisa bersantai, contohnya mendengarkan musik , rutin berolahraga. Olahraga ringan terbukti dapat memperbaiki mood.
  5. Menetapkan pola makan yang seimbang dan mengatur jadwal makan.
  6. Hindari konsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.