Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

IMD (Inisiasi Menyusu Dini)

Bunda pasti sudah tahu dan sering mendengar tentang IMD yang sedang gencar digalakkan oleh pemerintah melalui kementrian kesehatan (Kemenkes) RI. IMD (Inisiasi Menyusu Dini) atau early latch on saat ini sudah banyak dilakukan di berbagai RSIA ataupun bidan di indonesia. Menurut UNICEF, IMD merupakan suatu kondisi saat bayi mulai menyusu sendiri setelah lahir dengan kriteria terjadi kontak kulit bunda dan kulit bayi setidaknya dalam waktu minimal 1 jam pertama setelah bayi lahir.

Mengapa IMD gencar dipromosikan dan dianjurkan oleh Kemenkes ya, Bunda? Karena menurut UNICEF, sebanyak 30.000 bayi yang biasanya meninggal pada bulan pertama kelahirannya dapat diselamatkan dengan melakukan IMD setelah 1 jam pertama kelahiran. Namun sayangnya, tidak semua RSIA dengan tenaga kesehatan melakukan IMD dengan prosedur yang benar. Bahkan ada yang terkesan terburu-buru untuk menyudahi proses IMD sesaat setelah bunda melahirkan.

Pada orang tua dan tenaga kesehatan yang kompeten di bidangnya diharapkan mampu melakukan kerja sama untuk selalu mengingatkan pentingnya IMD serta meminta hak bunda dan bayi untuk melakukan IMD sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Tindakan yang harus bunda dan ayah lakukan jauh-jauh hari sebelum persalinan adalah mencari RSIA dengan dokter spesialis kandungan dan anak yang pro-ASI agar IMD dapat berlangsung sesuai prosedur yang berlaku.

Lalu bagaimana cara melakukan IMD yang benar ya, bunda?

Pelaksanaan IMD cukup mudah kok bunda. Bunda bisa mempelajarinya dari sekarang.

Tata laksana IMD sesaat setelah proses persalinan menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

  1. IMD harus dilakukan langsung saat lahir tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi jika ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
  2. Segera lakukan kontak kulit antara bunda dan bayi setelah pemotongan dan pengikatan tali pusat. Bayi ditengkurapkan di dada atau di perut bunda dengan kepala menghadap ke arah kepala bunda secepat mungkin setelah seluruh badan dikeringkan (bukan dimandikan), kecuali pada telapak tangannya. Mengeringkan tubuh bayi tidak perlu sampai menghilangkan verniks(lemak di tangan bayi) karena verniks berfungsi sebagai penahan panas pada bayi.
  3. Kedua telapak tangan bayi dibiarkan tetap terkena air ketuban. Bau dan rasa cairan ketuban sama dengan bau yang dikeluarkan payudara bunda. Agar baunya tetap ada, maka dada bunda juga tidak boleh dibersihkan.
  4. Jika ruangan dingin, petugas kesehatan bisa memberikan selimut untuk menyelimuti bunda dan bayi (selimuti di atas punggung bayi ya, jadi tetap terjadi kontak kulit antara dada bunda dan dada si kecil), serta berikan topi untuk menutupi kepala si kecil.
  5. Setelah bayi diletakkan, dia akan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Bayi kemungkinan belum bereaksi saat pertama kali diletakkan di dada bunda karena masih waspada dan mengenali keadaan sekitarnya.
  6. Bayi akan merangkak naik dengan menjejakkan kaki ke perut bunda. Nah, gerakan ini sangat bermanfaat loh bunda. Pijakan kaki bayi di atas rahim bunda akan mempercepat lahirnya plasenta dan menghindari risiko perdarahan. Sambil merangkak, bayi juga menjilati kulit bundanya yang mengandung bakteri baik sehingga kekebalan tubuh bayi akan bertambah. Meskipun kemampuan melihatnya masih terbatas, bayi bisa melihat areola mammae yang berwarna gelap dan akan bergerak menghampirinya.
  7. Hentakan kepala bayi pada payudara bunda merupakan pijat payudara. Bayi meremas puting ibu untuk mengeluarkan puting dan merangsang oksitosin. Saat menemukan puting ibu, bayi tidak langsung mengisap melainkan menjilati dan mengulumnya terlebih dahulu. Setelah itu bayi mulai menyusu sendiri.
  8. Setelah usai tindakan IMD, tindakan asuhan keperawatan seperti menimbang, pemeriksaan lainnya, penyuntikan vitamin K1, dan pengolesan salep pada mata bayi baru dapat dilakukan.
  9. Tunda untuk memandikan si kecil, minimal 6 jam setelah kelahiran atau keesokan harinya.
  10. Bayi tetap berada dalam jangkauan bunda agar dapat diberi ASI sesuai dengan permintaan si kecil dengan cara rawat gabung (rooming in). Bunda tidak perlu khawatir tidak bisa beristirahat karena si kecil ada dalam satu ruangan. Justru dengan adanya si kecil, bunda tetap bisa beristirahat dan tidak perlu bolak-balik ke ruang bayi untuk menyusui. Rooming in memudahkan bunda lebih leluasa menyusi bayi kapan pun si bayi meminta.

Sungguh luar biasa kan bund? Apa masih ngerasa ngga rugi kalau melewatkan IMD setelah persalinan? Mulai sekarang pilih rumah sakit dan klinik bersalin yang pro-IMD ya.

Bunda atau tenaga kesehatan tidak perlu memberikan bantuan apapun pada bayi. Bunda boleh memberikan belaian lembut kepada bayi tapi tidak membantunya. Biarkan si bayi menyusu sendiri. Bayi punya kodrat alami untuk menyusu dari bunda bahkan saat dia baru lahir.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.