Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Donor ASI

DONOR ASI

 Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Memberi atau Menerima Donor ASI

Bagi sebagian ibu, berbagi ASI kepada bayi lain selain anaknya sendiri bisa terasa aneh. Namun, berbagi ASI dapat membawa manfaat bagi bayi-bayi yang membutuhkan, seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Lahir dengan berat badan rendah menempatkan bayi dalam peningkatan risiko kematian selama masa bayi dan kanak-kanak, keterlambatan pada proses tumbuh kembangnya, serta risiko terkena penyakit menular. Sebagai langkah penanganan, WHO merekomendasikan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan rendah harus diberikan ASI dari ibu kandung atau dari pendonor ASI bila ibu kandung tidak bisa memberikannya.

Namun bandingkan dengan pemberian susu formula, donor ASI terbukti dapat mengurangi terjadinya :

  1. Penyakit enkolitis, nekrotikan (kondisi dimana saluran cerna rusak pada tingkat yang bervariasi, mulai dari peradangan hingga membusuk dan bocor).
  2. Gangguan usus parah.
  3. Infeksi selama masa-masa awal kelahiran.

Untuk bisa mendonorkan ASI, seorang wanita harus memenuhi beberapa persyaratan kesehatan seperti berikut :

  1. Ibu pendonor harus :
  • Bersedia menjalani tes darah untuk mengetahui kondisi kesehatannya.
  • Berada di dalam kondisi kesehatan yang baik.
  • Tidak secara teratur mengkonsumsi obat-obatan atau suplemen herbal (kecuali insulin, hormon pengganti tiroid, vitamin prenatal, nasa spray atau semprotan hidung, inhaler untuk asma, obat tetes mata, salep, produk KB yang mengandung estrogen rendah atau hanya mengandung progestin).
  • Ketika mulai memberikan donor ASI, ibu pendonor juga harus sedang memiliki bayi yang usianya di bawah 6 bulan.
  • Jadi ibu pendonor atau bayi kandung sedang pilek, ibu pendonor tidak boleh merah ASI untuk donor ASI sampai mereka pulih.
  1. Seorang ibu dilarang menjadi pendonor bila :
  • Hasil tes darah menunjukkan positif HIV, HTLV (Human T-lymphotropic virus), sifilis, hepatitis B atau hepatitis C.
  • Memiliki suami atau pasangan seksual yang berisiko terjangkit HIV.
  • Merokok atau mengkonsusmsi produk-produk dari tembakau.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Mengkonsumsi 60 ml minuman beralkohol per hari.
  • Dalam 4 bulan terakhir telah menerima tranfusi darah atau produk darah
  • Dalam 12 bulan terakhir telah menerima transplantasi organ atau jaringan.
  1. Persyaratan Khusus

Di indonesia sendiri sudah ada peraturan tentang ASI, yaitu peraturan pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif.

Isinya menyatakan :

  1. Pemberian ASI eksklusif oleh pendonor ASI dilakukan dengan persyaratan :
  • Adanya permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.
  • Kejelasan identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI.
  • Adanya persetujuan pendonor ASI setelah mengikuti identitas bayi yang diberi ASI.
  • Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak memiliki indikasi medis yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI eksklusiif.
  • ASI tidak diperjual belikan.
  1. Pemberian ASI wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial, budaya, mutu, dan keamanan ASI.

Sementara itu, orang tua yang mencari ibu susu alias pendonor ASI untuk menyusui bayi mereka perlu memperhatikan beberapa hal berikut :

  • Pertimbangkan kemungkinan risiko keselamatan

Ingatlah bahwa praktik berbagi ASI juga bisa mengundang risiko kesehatan untuk bayi, tergantung pada siapa pendonor ASI dan bagaimana mekanisme donor itu dilakukan, misalnya bagaimana penyimpanan ASI dan sebagainya. Risiko untuk bayi tersebut antara lain :

  1. Terpapar penyakit menular, termasuk HIV.
  2. Terkontaminasi zat-zat kimia dari obat-obatan yang dikonsumsi ibu pendonor.

Seperti susu pada umumnya, ASI yang tidak disimpan atau dibekukan dengan benar bisa menjadi terkontaminasi dan tidak aman untuk diminum. Selain itu, perhatikan pula bahwa kebutuhan gizi tiap bayi bergantung kepada banyak faktor, termasuk usia dan kondisi kesehatan bayi. Oleh karenanya, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu tentang pilihan memberikan ASI donor untuk anak.

  • Pastikan pendonor ASI Telah Menjalani Tes Kesehatan

Bila setelah berkonsultasi dengan dokter, moms memutuskan untuk memberi ASI donor kepada buah hati, pastikan ibu pendonor sudah melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan keamanan ASInya. Mengenai biaya pemeriksaan ibu pendonor, dapat didiskusikan bersama.

Bila moms berniat memberikan ASI donor kepada si kecil, tidak ada salahnya untuk mencari informasi yang bermanfaat. Setelah memiliki pengetahuan mengenai praktik ini dan telah berkonsultasi dengan dokter, moms dapat menentukan pilihan yang bijak untuk si kecil.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.