Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Difteri

DIFTERI

 Apa itu Difteri?

Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diphteriae strain toksin, ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi. Terutama pada selaput mukosa faring, laring, tonsil, hidung dan juga pada lapisan kulit.

Ditularkan melalui percikan cairan dari saluran pernapasan atau kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernapasan, dan pengelupasan luka di kulit.

Gejala Difteri

  1. Demam lebih dari 380
  2. Munculnya pseudomembran putih keabu-abuan, tak mudah lepas & mudah berdarah.
  3. Sakit waktu menelan.
  4. Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), akibat pembengkakan kelenjar leher.
  5. Sesak nafas disertai bunyi (stridor).

Pencegahan Difteri

Ada 3 jenis vaksin untuk imunisasi Difteri :

  1. Vaksin DPT-HB-Hib
  2. Vaksin DT
  3. Vaksin Td

Diagnosa dan Pengobatan Difteri

untuk mendiagnosis apakah anak anda menderita difteri atau tidak, dokter biasanya akan melakukan diagnosis awal dari gejala yang dialami oleh anak, seperti sakit tenggorokan yang disertai dengan membran abu-abu di tenggorokan. Dokter biasanya akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan, hidung, dan bisul untuk diperiksa di laboratorium.

  1. Jika anak diduga tertular difteri maka dokter akan memulai penanganan, bahkan meskipun hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar. Biasanya dokter akan menganjurkan perawatan intensif di rumah sakit yakni di ruang isolasi untuk mencegah penularan. Setelah itu pengobatan akan dilakukan dengan pemberian 2 jenis obat yaitu antibiotik dan antitoksin.
  2. Obat-obatan antibiotik berguna untuk mencegah perkembangan bakteri yang berguna untuk menyembuhkan infeksi. Dosis pemberian antibiotik tergantung pada tingkat keparahan difteri serta lamanya anak menderita difteri.
  3. Setelah mengkonsumsi obat antibiotik selama 2 hari biasanya penderita difteri sudah tidak akan menularkan bakteri difteri. Namun, penting bagi anak untuk terus melanjutkan pengobatan antibiotiknya sampai selesai (biasanya selama 2 minggu). Setelah menyelesaikan pengobatan, penderita akan melakukan pemeriksaan di laboratorium. Jika bakteri penyakit difteri masih ditemukan pada penderita akan disarankan untuk menjalani pengobatan antibiotik lagi selama 10 hari.
  4. Pengobatan antitoksin berguna untuk menetralkan toksin atau racun yang sudah menyebar di dalam tubuh penderita sebelum memberikan obat antitoksin pada anak, dokter terlebih dahulu akan memastikan apakah anak alergi terhadap obat antitoksin atau tidak. Jika anak menderita alergi terhadap obat antitoksin maka dokter hanya akan memberikan dalam dosis rendah. Selanjutnya dosis akan ditingkatkan sambil melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh anak.
  5. Jika anak menderita kesulitan atau sesak napas akibat adanya membran abu-abu ditenggorokan, maka kemungkinan dokter akan menyarankan untuk mengangkat membran abu-abu tersebut.

Selain anak, sebaiknya moms dan juga anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan anak juga melakukan pemeriksaan difteri sebab penyakit difteri sangat mudah menular.

Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan kepada orang-orang yang dekat dengan penderita, kemudian akan diberikan antibiotik.

Imunisasi Difteri pada Bayi dan Balita

Bayi (0-11 bulan) wajib mendapatkan 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Kemudian, dilanjutkan dengan 1 dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.