Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Dermatitis Atopik pada Bayi

DERMATITIS ATOPIK PADA BAYI

 Dermatitis atopik merupakan salah satu jenis dermatitis (eksim) yang terjadi akibat adanya peradangan pada kulit. Kondisi ini bisa disertai dengan kulit yang memerah, kering, dan pecah-pecah. 

Gejala Dermatitis Atopik

Setiap pengidap dapat merasakan gejala yang berbeda. Pada bayi, gejala dermatitis atopik berupa kulit bersisik, memerah, dan berkerak di area pipi, kulit kepala, tangan dan kaki. Sedangkan pada anak-anak dan orang dewasa, gejala dermatitis atopik yang sering muncul adalah ruam merah dan terasa sangat gatal di area belakang leher, lutut, dan siku.

Selain gejala tersebut, pengidap juga dapat merasakan gejala lain, seperti :

  • Ruam yang menonjol dan mengeluarkan cairan.
  • Kulit kering dan bersisik.
  • Kulit di telapak tangan atau area bawah mata mengerut atau kusut.
  • Kulit disekitar mata lebih gelap.
  • Kulit pecah-pecah, terkelupas, hingga mengeluarkan darah.

Rasa gatal yang muncul lebih buruk saat malam hari dan jika digaruk, kulit akan menjadi lebih tebal, timbul bopeng atau berlubang, dan menggelap. Terus menerus menggaruk area kulit yang bermasalah dapat memicu infeksi.

Penyebab Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik terjadi akibat interaksi multifaktorial, yaitu faktor genetik (keturunan), lingkungan, gangguan fungsi sawar (pelindung) kulit, faktor imunologi, dan infeksi.

Faktor Risiko Dermatitis Atopik

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terkena dermatitis atopik, yaitu :

  1. Riwayat pribadi/keluarga terhadap eksim, alergi, hay fever atau asma.
  2. Mengalami dermatitis kontak yang biasanya dialami oleh pekerja medis.
  3. Lebih sering terkena pada jenis kelamin perempuan dibanding laki-laki.

Sementara itu, faktor-faktor yang meningkatkan risiko pada anak-anak meliputi :

  1. Tinggal di area kota.
  2. Sering dititipkan ditempat penitipan anak.
  3. Memiliki gangguan hiperaktif (ADHD).

Pencegahan Dermatitis Atopik

Lakukan beberapa hal ini untuk mencegah dermatitis atopik kambuh. Salah satu yang utama adalah dengan menghindari faktor pencetus. Jika pencetus alergi adalah debu, maka hindari debu. Jika pencetusnya berupa susu, hindari semua makanan dan minuman yang mengandung susu. Melakukan beberapa hal berikut juga dapat membantu :

  1. Bersihkan secara berkala perlengkapan tidur minimal 2 minggu sekali.
  2. Ganti selimut tidur, khususnya jika tidak tahan dengan udara dingin.
  3. Bersihkan rumah secara rutin.

Pengobatan Dermatitis Atopik

  • Perawatan Saat Mandi
  1. Mandi 1-2 kali sehari dengan menggunakan air hangat kuku (suhu 36-370 C).
  2. Lama mandi kira-kira 10-15 menit.
  3. Menggunakan sabun yang menggunakan pelembab, pH 5,5- 6, tidak mengandung pewarna dan pewangi.
  • Perawatan Setelah Mandi
  1. Setelah selesai mandi, oleskan pelembab keseluruh kulit kecuali kulit kepala.
  2. Cara aplikasi : menggunakan tangan, dioleskan tipis di seluruh permukaan kulit kecuali kulit kepala, apabila kulit terkena air atau bahan lain dalam waktu kurang dari 5 menit setelah pengolesan, prosedur diulang kembali.
  • Perawatan Kulit Lainnya
  1. Memakai pakaian yang ringan, lembut, halus, dan menyerap keringat.
  2. Mencegah bahan iritan, seperti detergen, sabun cair pencuci piring, dan desinfektan saat mencuci pakaian bayi.
  3. Menghindari faktor pencetus alergen, seperti tungau debu rumah, binatang peliharaan, serbuk bunga.
  4. Menjaga suhu ruangan tempat bayi berada agar tidak ekstrem, misalnya terlalu panas atau terlalu dingin.
  5. Oleskan cream pada kulit yang bermasalah (cream yang bernutrisi) yang mengandung bahan organik seperti “weleda” cream baby.

Kapan harus ke dokter?

Segera periksa ke dokter bila mengalami gejala-gejala berikut :

  1. Sulit tidur karena rasa gatal memburuk di malam hari.
  2. Aktivitas sehari-hari jadi terganggu.
  3. Kulit terasa sakit.
  4. Kulit terkena infeksi misalnya dengan muncul garis-garis merah, nanah.
  5. Perawatan rumahan yang sudah dilakukan tidak membantu meringankan gejala.
  6. Mata atau pandangan terganggu.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.