Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

Alasan Mengapa MPASI diberikan Setelah Bayi Berusia 6 Bulan

ALASAN MENGAPA MPASI DIBERIKAN SETELAH BAYI BERUSIA 6 BULAN

 Bayi sebaiknya harus mengonsumsi ASI pada usia 6 bulan pertama hidupnya. Setelah 6 bulan, dia dapat mengonsumsi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Namun pemberian MPASI harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati.

Banyak orang memberikan makanan padat pada bayi bahkan saat bayi masih berusia kurang dari 4 bulan. Padahal sebaiknya makanan padat mulai diberikan saat usia bayi telah mencapai 6 bulan. Pada usia setelah 6 bulan ke atas, makanan berperan sebagai pendamping ASI (MPASI).

Tanda-Tanda Bayi Sudah Siap Makan

Sebaiknya hindari memberikan makanan padat atau minuman selain ASI sebelum bayi berusia 6 bulan. Pada usia ini, bayi lebih berisiko mengalami alergi, terutama pada makanan seperti kacang, telur, ikan, susu sapi, keju maupun makanan yang mengandung gluten seperti roti.

Kapan bayi siap diperkenalkan pada makanan? Pertumbuhan tiap bayi memang unik sehingga tidak dapat dibandingkan antara satu sama lain, namun terdapat ciri-ciri umum yang menunjukkan bahwa bayi telah siap mengonsumsi MPASI. Bayi moms mungkin memiliki satu atau dua tanda-tanda berikut ini ketika berusia 6 bulan :

  1. Dia mulai bisa meraih makanan dan memasukkan ke mulut karena telah ada koordinasi antara mulut, mata, serta tangannya.
  2. Dia dapat duduk sendiri tanpa bantuan dengan kepalanya telah tersangga oleh tubuh dengan baik.
  3. Bayi mom tertarik pada makanan yang sedang moms konsumsi.
  4. Dia dapat menelan makanan. Jika tidak, dia akan mengeluarkan makanan itu kembali keluar dari mulut.

Namun ada kalanya orangtua terburu-buru dalam memberikan makanan pada bayi yang dikira menunjukkan tanda-tanda siap makan. Padahal suatu tanda dari bayi belum tentu dapat menjadi petunjuk bahwa dia lapar dan siap makan, misalnya hanya karena bayi sudah bisa memasukkan jarinya ke mulut atau ingin minum ASI lebih banyak dibandingkan biasanya.

Risiko Akibat Pemberian MPASI Dini

  1. Pemberian MPASI dini menyebabkan bayi lebih rentan terserang penyakit. Pemberian MPASI dini bisa saja berkontribusi pada masuknya virus dan kuman. Terlebih lagi jika makanan yang disajikan kurang higienis. Berbagai riset menunjukkan bahwa bayi yang mendapat MPASI sebelum usia 6 bulan lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapat ASI eksklusif.
  2. Pemberian MPASI dini akan menyulitkan moms mempertahankan produksi ASI. Karena bayi yang sudah mendapatkan MPASI frekuensi menyusunya juga berkurang.
  3. Proses pemecahan sari-sari makanan belum sempurna. Pada beberapa kasus MPASI dini harus dilakukan tindakan bedah karena penyumbatan saluran cerna.
  4. Membuat bayi kekurangan gizi. Pemberian MPASI dini (yang biasa encer) tidak mencukupi kebutuhan gizinya. Sumber gizi lengkap bagi bayi di bawah 6 bulan hanya terdapat dalam ASI. Jika diberikan MPASI dini maka frekuensi menyusu akan berkurang sehingga tidak mendapat zat gizi yang semestinya didapat dari ASI. Pemberian MPASI dini dalam bentuk padat yang juga akan merusak sistem pencernaan bayi karena belum mempunyai kemampuan untuk mencerna.

Bahaya Keterlambatan Pemberian MPASI kepada Bayi (> Usia 6 Bulan)

  1. Kebutuhan gizi dan nafsu makan bayi sudah tidak bisa dipenuhi sepenuhnya hanya dari ASI. Bayi tidak akan mendapat cukup zat gizi untuk pertumbuhan.
  2. Malnutrisi dan defisiensi gizi seperti zat besi. Cadangan zat gizi penting seperti zat besi sudah habis terpakai dan tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI saja, jadi dibutuhkan makanan tambahan untuk menyuplai zat gizi yang kurang tersebut.
  3. Tumbuh kembang bayi lebih lambat. Anak akan terganggu perkembangan oro-motoriknya yang membuat anak nantinya kesulitan untuk makan (susah makan).

Membiasakan bayi dengan MPASI

Meski sama-sama mengonsumsi makanan padat seperti orang dewasa, namun pemberian makanan pada bayi harus dilakukan secara berbeda. Berikut ini dapat menjadi panduan dalam memberikan MPASI kepada bayi.

  1. Ajak si kecil makan bersama-sama keluarga di meja makan. Si kecil cenderung untuk meniru yang dilakukan orangtua dan orang-orang disekitarnya, sehingga nantinya dia akan mencoba mulai makan dengan tertib. Tempatkan bayi pada kursi makan khusus bayi.
  2. Untuk memperkenalkan bayi pada makanan padat, awali dengan memberikan sebanyak beberapa sendok teh makanan, sehari sekali. Cobalah untuk memberikan jenis makanan berbeda tiap hari selama seminggu (1 minggu perkenalan).
  3. Pengenalan makanan pada bayi pasti memerlukan waktu dan kesabaran. Hindari memaksakan bayi untuk mengonsumsi makanannya. Ingat bahwa jika dia memang belum tertarik pada saat ini, bukan berarti dia tidak akan tertarik untuk makan. Cobalah untuk menawarkan MPASI kembali keesokan harinya.
  4. Untuk mengantisipasi agar bayi tidak tersedak saat mengunyah dan menelan makanan, hindari meninggalkannya seorang diri.
  5. Jika dia ingin, biarkan dia mengambil dan memasukkan makanan sendiri ke dalam mulutnya.
  6. Buat suasana makan menjadi menarik dan menyenangkan, misalnya dengan diiringi alunan musik atau menggunakan perlengkapan makan berwarna cerah.
  7. Hindari menambahkan MSG atau penambah cita rasa. Tapi, gula garam dan kecap harus diberikan secukupnya (harus ada rasa). Jangan berikan makanan yang hambar, karena bayi sudah mengenal rasa sejak bayi menyusu (ASI ada rasa manisnya loh moms)!
  8. Cobalah untuk merasakan dulu makanan yang akan disuapkan kepada si kecil, terutama makanan panas, namun sebaiknya hindari meniupnya, cukup didekatkan pada bibir dan dikipas jika memang terlalu panas.
  9. Bersiaplah dengan kondisi saat makan karena bayi moms akan antusias untuk mengaduk-aduk dan mengacaukannya. Selalu ingat bahwa situasi ini juga penting bagi perkembangannya. Moms bisa menyiapkan alas plastik untuk melapisi meja dan lantai disekitar tempatnya makan.
  10. Pakaikan celemek pada lehernya untuk mengantisipasi makanan yang tumpah dari sendok/mulut.
  11. Sebaiknya gunakan perlengkapan makan yang tidak terbuat dari kaca sehingga tidak berisiko pecah dan melukai bayi.
  12. Pada usia ini hindari menyuapinya saat dia sedang duduk di kursi goyang untuk mengurangi risiko tersedak.

Kebiasaan dan pola makan anak bermula dari masa pertamanya mengonsumsi makanan. Berikan beragam jenis makanan sehat dan alami sehingga anak mendapat sebanyak mungkin manfaat sayur dan buah serta terbiasa menyantapnya.

Yang perlu diperhatikan ketika memberikan makan untuk bayi :

  1. Terlalu banyak jus dapat menyebabkan bayi mengalami diare. Jus juga memiliki kandungan serat dan nutrisi yang lebih rendah dibanding buah yang dipotong atau dihaluskan. Jika terlalu lama berada dalam mulut, jus juga dapat menyebabkan lubang pada gigi.
  2. Hindari memberikan biji-bjian dan makanan kecil yang berisiko menyebabkan tersedak seperti popcorn, kacang, permen.
  3. Hindari memberikan makanan cepat saji dan makanan kemasan pada bayi, termasuk bubur bayi yang banyak di jual disupermarket dalam bentuk bubuk. Jauh lebih baik untuk mengolah makanan sendiri dengan bahan segar tanpa tambahan pengawet dan bahan lain. Olahan makanan ini dapat disimpan dalam wadah-wadah sesuai porsi di lemari pendingin untuk kemudian dipanaskan saat akan dikonsumsi.
  4. Buatlah makanan bayi dari makanan keluarga (tanpa cabe), misalnya : tumis kangkung (kangkung polos untuk bayi sedangkan tumis kangkung tambah cabe untuk keluarga).

Seiring dengan konsumsi makanan bayi menjadi lebih sedikit mengonsumsi ASI. Sekitar 6 bulan, bayi umumnya mengonsumsi 800 mililiter susu. Namun pada usia satu tahun, konsumsi susunya turun menjadi sekitar 600 mililiter. Kebutuhan nutrisi selebihnya didapatkan dari makanan. Namun jangan berhenti memberi ASI karena dia masih membutuhkannya hingga setidaknya sampai usia 2 tahun.

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.