Hi, saya dr. Willey Eliot, M.Kes.

Nama saya dr. Willey Eliot, M.Kes. dan saya adalah seorang dokter laktasi, konsultan laktasi dan konselor laktasi. How can I help? Isi pesan Anda dan klik tanda panah untuk chatting dengan saya via whatsapp.

KEBUTUHAN VITAMIN UNTUK BAYI BESERTA FUNGSINYA

KEBUTUHAN VITAMIN UNTUK BAYI BESERTA FUNGSINYA

Di tahun pertamanya, bayi mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Pada 6 bulan pertama, bayi mendapatkan asupan gizi utamanya dari ASI setelah berusia 6 bulan dan sudah bisa mengonsumsi MPASI, si kecil akan membutuhkan banyak nutrisi, yang salah satunya adalah berbagai macam vitamin untuk bayi. Fungsi vitamin ini tidak kalah penting dari asupan nutrisi lain, seperti protein, karbohidrat, lemak, dan mineral.

Berbagai jenis vitamin untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang bayi

  1. Vitamin A

Vitamin A berguna mendukung sistem kekebalan tubuh bayi serta menjaga kesehatan kulit, rambut, dan matanya. Bayi berusia 0-6 bulan membutuhkan sekitar 370 (mcg) vitamin A per hari. Sedangkan bayi berusia 6 bulan hingga anak usia 3 tahun membutuhkan sekitar 400 mcg vitamin A per hari.

Kekurangan vitamin A menyebabkan : kulit kering, mudah terserang infeksi, gangguan penglihatan (buta senja). Kelebihan vitamin A menyebabkan : gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare, pusing, kulit menguning.

Vitamin A terkandung dalam beberapa jenis sayuran dan buah-buahan seperti bayam, wortel, kentang, tomat, ubi, mangga, papaya, dll.

  1. Vitamin B1

Vitamin B1 (Thiamin) membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan, serta fungsi sel-sel tubuh bayi, terutama sel saraf. Bayi membutuhkan sekitar 0,3 mg vitamin B1 setiap hari.

Kekurangan vitamin B1 dapat menyebabkan penyakit beri-beri. Beri-beri dapat dikenali dengan gejala sesak nafas, gerakan mata yang tidak normal, detak jantung meningkat, kaki bengkak, dan muntah-muntah.

Vitamin ini secara alami terdapat pada nasi, daging sapi, hati sapi, daging ayam, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, kol, jeruk, kentang, gandum utuh seperti (sereal, roti, dan pasta).

  1. Vitamin B2

Vitamin B2 (Riboflavin) membantu tubuh dalam menggunakan energi dan melindungi sel dari kerusakan. Vitamin ini juga baik untuk kesehatan muka, kulit, dan sistem saraf bayi. Bayi disarankan mengonsumsi sekitar 0,3 mg vitamin B2 setiap hari.

Kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan anemia, mata merah, sariawan, dan infeksi mulut. Beberapa jenis makanan yang mengandung banyak vitamin B2 adalah susu, daging sapi, telur, dan sayuran.

  1. Vitamin B3

Vitamin B3 (Niacin) diperlukan tubuh untuk mengubah protein dan lemak menjadi energi. Vitamin ini juga baik  untuk kesehatan kulit dan sistem saraf bayi.

Kekurangan vitamin B3 akan membuat tubuh mengalami gangguan pencernaan, sariawan, kelelahan, muntah, hingga depresi. Lebih parah lagi, kekurangan vitamin B3 dapat menimbulkan penyakit pellagra yang ditandai dengan gangguan pada kulit, pencernaan dan saraf. Apabila tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Bayi membutuhkan sekitar 2-4 mg asupan vitamin D3 setiap harinya. Daging/hati ayam, ikan, jamur, alpukat, kentang, dan kacang polong adalah sumber asupan vitamin B3 yang bisa ditambahkan dalam menu MPASI si kecil.

  1. Vitamin B6

Vitamin B6 (Pyridoxine) berperan dalam menjaga kesehatan otak dan sistem kekebalan tubuh. Bayi membutuhkan  sekitar 0,1-0,3 mg vitamin B6 setiap harinya.

Kekurangan vitamin B6 menyebabkan anemia, gangguan kulit seperti ruam atau bibir pecah-pecah, depresi, kebingungan, mual, rentan terkena infeksi, hingga meningkatkan risiko kanker usus besar dan jenis kanker lainnya.

Vitamin B6 ditemukan pada jenis sayuran seperti buncis, kentang, dan bayam. Selain itu, bisa ditemukan juga pada ikan salmon, tuna, dada ayam, daging giling, hati sapi, dan semangka.

  1. Vitamin B9

Vitamin B9 (Folat) merupakan salah satu jenis vitamin yang sangat penting bagi kesehatan bayi. Asam folat yang cukup sejak dalam kandungan dapat mengurangi risiko bayi terlahir cacat. Setelah bayi lahir, vitamin untuk bayi yang satu ini berperan penting dalam membentuk sel darah merah dan sistem kekebalan tubuh bayi, serta mencegah anemia.

Bayi membutuhkan asupan asam folat sebanyak 65-80 mcg setiap harinya. Vitamin ini bisa didapatkan dari daging, biji-bijian, buah bit, brokoli, kacang-kacangan (kacang polong), bayam, bauh-buahan sitrus seperti jeruk mandarin, lemon, dan jeruk nipis.

Tanpa vitamin B9 yang cukup maka seseorang bisa terkena diare atau anemia dan bagi wanita hamil yang kekurangan vitamin ini juga berisiko melahirkan bayi cacat.

  1. Vitamin B12

Vitamin B12 (Cobalamine) berfungsi untuk mempertahankan sel-sel saraf dan darah agar tetap sehat, serta membuat DNA yang merupakan materi genetik di setiap sel. Bayi membutuhkan 0,4-0,5 mcg vitamin B12 setiap harinya. Asupan vitamin B12 bisa didapatkan dengan mengonsumsi telur, daging sapi, keju, susu, dan ikan.

Kekurangan vitamin B12 dapat  menyebabkan kerusakan pada otak dan saraf. Kekurangan vitamin B12 meski hanya sedikit saja sudah dapat memicu timbulnya berbagai gejala seperti depresi, gangguan memori, dan kelelahan. Gejala lain yang dapat muncul saat anda kekurangan vitamin B12 diantaranya :

  • Konstipasi
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Berat badan turun
  • Kesemutan di tangan dan kaki
  1. Vitamin C

Vitamin C melindungi tubuh terhadap infeksi, membantu tubuh menyerap zat besi, membangun tulang dan otot, serta membantu menyembuhkan luka. Bayi membutuhkan asupan vitamin C sebanyak 40-50 mg/hari. Vitamin ini secara alami terdapat dalam buah dan sayuran, seperti jeruk, pepaya, stroberi, kiwi, mangga, jambu biji, kembang kol, kentang, dan brokoli.

Kekurangan vitamin C menyebabkan kulit kasar dan tidak rata, bintik merah pada kulit, kuku menyerupai sendok (cekung), kulit mudah memar, luka yang memulih dengan lambat, gusi berdarah, tulang yang lemah, sakit pada persendian, perubahan mood dan rasa lelah. Vitamin C paling penting untuk penyembuhan suatu penyakit.

  1. Vitamin D

Vitamin D merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam lemak. Secara kimiawi, bentuk aktif dari vitamin D ada 2, yaitu vitamin D2 atau ergocalciferol dan vitamin D3 yang disebut cholecalciferol.

Vitamin D2 hanya ditemukan pada makanan dari jenis tumbuh-tumbuhan tertentu, seperti jamur. Sedangkan vitamin D3 terbentuk secara alami ketika kulit anda terkena sinar matahari langsung. Selain itu, vitamin D3 juga dapat dijumpai pada makanan yang berasal dari hewan, seperti ikan laut (salmon, tuna, tongkol), minyak ikan, minyak hati ikan, telur, susu, dan olahannya (keju, yoghurt), hati sapi, sereal  atau jus buah yang diperkaya vitamin D. Vitamin D dalam jumlah yang sedikit dalam makanan, sehingga asupan vitamin D3 juga bisa diperoleh dari suplemen yang mengandung vitamin D3.

Berdasarkan rekomendasi AKG dari Kementerian Kesehatan, kebutuhan harian vitamin D untuk wanita maupun pria dewasa adalah 15 mcg atau setara dengan 600 IU. Sedangkan lansia disarankan untuk mencukupi vitamin D harian sebanyak 20 mcg atau setara dengan 800 IU.

Faktor risiko yang berperan dalam terjadinya defisiensi vitamin D antara lain : kurangnya paparan sinar matahari langsung , asupan makanan yang sedikit menganung vitamin D.

Kurangnya paparan sinar matahai dapat berupa gaya hidup anak yang sebagian besar berada dalam gedung. Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung adalah pukul 10.00-15.00. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet A berfungsi mengubah Provitamin D di kulit menjadi vitamin D.

Masalah defisiensi vitamin D merupakan masalah yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun kesadaran masyarakat masih tergolong rendah.

  • Suplemen vitamin D untuk bayi 0-12 bulan sebanyak 400 IU perhari, tanpa memandang jenis makanannya (ASIX atau tidak).
  • Suplemen vitamin D untuk anak >12 bulan, sebanyak 600 IU perhari tanpa memandang jenis makanannya.
  • Untuk ibu hamil dan menyusui perlu mengonsumsi vitamin D 600 IU perhari.

Defisiensi vitamin D bisa dialami oleh siapapun termasuk bayi, anak-anak, dan orang dewasa. Meski umumnya tidak memiliki gejala yang spesifik. Ada beberapa tanda dan gejala yang bisa timbul ketika tubuh kekurangan vitamin D.

  • Pada Bayi & Anak

Bayi dan anak-anak yang kekurangan vitamin D dapat menunjukkan beberapa gejala berikut :

  • Sesak nafas
  • Kram & kejang otot
  • Pertumbuhan lebih lambat
  • Terlambat tumbuh gigi & berjalan
  • Nyeri tulang

Selain gejala-gejala di atas, bentuk kaki yang bengkok dapat menjadi tanda anak kekurangan vitamin D. Terserang penyakit juga bisa menandakan anak mengalami defisiensi vitamin D, karena kekurangan vitamin ini dapat melemahkan daya tahan tubuh.

  • Pada Orang Dewasa

Pada orang dewasa, kekurangan vitamin D biasanya ditandai dengan beberapa gejala berikut :

  • Sering mengalami nyeri otot, nyeri punggung, dan nyeri tulang.
  • Tulang rapuh atau mudah patah, meskipun tidak mengalami cedera berat.
  • Mudah terserang penyakit infeksi, seperti flu.
  • Tubuh mudah lelah atau lelah berkepanjangan.
  • Suasana hati yang buruk, atau menunjukkan gejala depresi.
  • Luka yang sulit sembuh.
  • Rambut rontok.

Ibu hamil yang kurang asupan vitamin D berisiko mengalami sejumlah komplikasi, seperti diabetes gestasional, preeklamsia, dan kelahiran prematur, serta berisiko tinggi melahirkan secara sesar.

Efek kelebihan konsumsi vitamin D :

  1. Hiperkalsemia
  2. Kerusakan pada ginjal
  3. Tulang rapuh
  4. Detak jantung tidak beraturan

Kalsium yang tinggi menyebabkan endapan kalsium berkembang di arteri jantung, yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Gejalanya adalah nyeri dada, kelelahan, dan pusing.

Jadi, disarankan untuk mengetahui berapa banyak kadar vitamin D dalam darah sebelum mengonsumsi vitamin D. Yaitu dengan memeriksakan ke laboratorium. Bila tidak mengerti boleh berkonsultasi ke dokter umum, dokter anak, dokter kandungan, dan dokter laktasi terdekat.

Ketika mengonsumsi suplemen vitamin D tidak disarankan mengonsumsi kalsium berlebihan. Jadi, hanya mendapatkan kalsium dari makanan saja. Tidak perlu tambahan suplemen kalsium.

  1. Vitamin E

Vitamin E bertugas melindungi sel dari kerusakan, memperkuat system kekebalan tubuh, serta baik untuk kesehatan kulit dan mata. Bayi memerlukan sekitar 4-5 mg vitamin E setiap harinya. Buah alpukat, mangga, kiwi, dan sayuran, seperti bayam dan brokoli adalah sumber vitamin E yang baik untuk dikonsumsi si kecil.

Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan gangguan kelemahan otot, kesulitan koordinasi dan berjalan, mati rasa dan kesemutan, kerusakan penglihatan, sistem kekebalan tubuh melemah.

  1. Vitamin K

Vitamin K membantu proses pembekuan darah dan mempercepat proses penyembuhan luka. Bayi memerlukan sekitar 5-10 mcg vitamin K setiap harinya. Vitamin untuk bayi yang satu ini bisa ditemukan pada bayam, brokoli, kembang kol, ikan, hati, daging, dan telur.

Penyebab kekurangan vitamin K pada bayi :

  • Bayi tidak mendapat cukup asupan vitamin K saat masih di dalam kandungan, karena adanya kelainan pada plasenta atau ibu kekurangan vitamin K saat hamil.
  • Kandungan vitamin K dalam ASI sangat sedikit.
  • Usus bayi mengalami masalah, sehingga tidak memproduksi vitamin K.

Dampak kekurangan vitamin K menyebabkan : perdarahan hebat, osteoporosis, penyakit jantung.

Kebutuhan vitamin untuk bayi umumnya sudah bisa terpenuhi jika ia mendapatkan MPASI yang bergizi dan beraneka ragam. Namun jika diperlukan, bunda juga bisa memberikan suplemen vitamin kepada si kecil. Namun, bunda perlu berkonsultasi dulu dengan dokter anak, agar jenis dan dosis suplemen yang diberikan sesuai dengan kebutuhan si kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.